Muqaddimah
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (18) وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (19) لَا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ (20)
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung.” (QS Al-Hasyr [59] : 18-20).
Ayat ini dimulai dengan kalimat : يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَyangartinya : “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah….”.
Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu 'Anhu mengatakan, bahwa apabila sesuatu ayat dimulai dengan panggilan يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا berarti menunjukkan bahwa ayat tersebut mengandung perihal yang begitu penting atau berupa suatu larangan yang berat.
Umpamanya pada beberapa ayat yang berhubungan dengan panggilan untuk orang-orang beriman tersebut untuk menunaikan suatu perintah yang cukup berat, antara lain :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS Ali Imran / 3 : 102).
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar”. (QS Al-Ahzab / 33 : 70).
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS An-Nisa / 4 : 59).
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah).
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah / 2 : 208).
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah janji-janji itu…..”. (QS Al-Maidah / 5 : 1).
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya…..". (QS At-Tahrim / 66 : 8).
Adapun beberapa ayat di mana Allah memanggil orang-orang yang beriman untuk memperhatikan larangan-Nya yang memang berat, di antaranya :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS Al-Anfal / 8 : 27).
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS Ali Imran / 3 : 130).
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil…..”. (QS An-Nisa / 4 :29).
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS Al-Maidah / 5 : 51).
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS Al-Munafiqun / 63 : 9).
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka…...” (QS Al-Hujurat / 49 : 12).
Dalam hal ini, Allah menyeru orang-orang beriman agar senantiasa memelihara hubungan taqwa dengan Allah SangPencipta dan Pemelihara alam semesta beserta seisinya. Karenanya pengakuan iman saja belumlah cukup sebelum dilengkapi dengan mempercepat hubungan taqwa dengan Allah, dengan penuh keikhlasan jiwa , tawakkal berserah diri sepenuhnya kepada kekuasan-Nya, ridha dan menerima segela ketentuan-Nya, selalu bersyukur atas segala nikmat dan karunia-Nya, serta shabar menerima segala ujian, mushibah, dan cobaan-Nya. Kesemuanya itu hanya didapat karena adanya takwa kepada Allah, yang secara maksimal sudah diperoleh orang-orang beriman melalui ibadah shaum Ramadhan dan rangkaian amal ibadah di dalamnya.
Ingat Hari Esok sebagai Penyubur Iman
وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
“…dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.…”
Hari esok adalah hari akhirat. Hidup tidaklah akan disudahi hingga di dunia ini saja. Dunia hanyalah semata-mata masa untuk menanam benih. Adapun hasilnya akan dipetik adalah di hari akhirat. Maka, beriman kepada hari akhirat menyebabkan rezeki yang Allah karuniakan di dunia memang telah Allah sediakan terlebih dahulu sebagai persediaan hari esok.
Itulah konsekwensi kita ber-Islam, karena hanya Islamlah satu-satunya agama yang tidak memisahkan antara kepentingan duniawi dan ukhrawi. Sehingga ada ungkapan ahli hikmah yang berbunyi, “ad-dunya mazra‘atu al-akhirah” (artinya dunia adalah tempat bercocok tanam untuk kepentingan akhirat).
Oleh sebab itu maka teranglah apa yang dimaksud dengan ayat ini. Yaitu seyogyanyalah kita selaku orang-orang yang telah mengaku beriman memupuk imannya dengan takwa, lalu merenungkan hari esokya, apa gerangan yang akan kita bawa untuk menghadap Allah. Marilah kita masing-masing menghitung terlebih dahulu laba rugi hidup sendiri sebelum dihitung kelak.
Kemudian pada ujung ayat 18 diakhiri dengan :
إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“…sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Oleh karena tidak ada di antara kita yang terlepas dari pengawasan Allah, tidak ada tindak kemaksiatan kita, kedzaliman kita, yang tidak diketahuinya. Menunjukkan kita agar selalu menyuburkan nilai taqwa kepada-Nya. Sebab dengan taqwa itulah kita menjadi selalu dekat dengan Allah, dan Allah memang harus selalu kita dekati bukan kita jauhi, apalagi kita lupakan.
Ayat berikutnya mengingatkan :
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Artinya : ”Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik”.
Ibnu Katsir di dalam Tafsir Al-Quranul ‘Adzim menjelaskan maksud ayat tersebut adalah, "Janganlah kamu lupa mengingat kepada Allah atau berdzikir. Karena bila kamu telah lupa mengingat Allah, sedikit berdzikir kepada Allah, Allah pun akan membuat lupa apa-apa yang patut dikerjakan untuk kepentingan dirimu sendiri, dan yang akan membawa manfaat bagimu di akhir kelak kemudian hari.
Pada ayat lain Allah mengingatkan :
وَلاَ تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطاً
Artinya : "Dan janganlah engkau ikuti orang yang telah Kami jadikan lalai hatinya dari mengingat Kami, lalu diperturutkannya kehendak hawanafsunya, dan jadilah segala perbuatannya di luar batas." (QS Al-Kahfi [18] : 28).
Ayat ini diakhiri dengan
أُولئِكَ هُمُ الْفاسِقُونَ
"Itulah orang-orang yang fasik.”
Fasiq (al-fisq) berasal dari akar kata fasaqa - yafsiqu aw yafsuqu – fisqan - fusûqan. Secara bahasa maknanya adalah keluar dari sesuatu, menyimpang dari perintah. Secara istilah, orang fasik adalah : Orang yang menyaksikan tetapi tidak meyakini dan melaksanakan, orang yang meninggalkan perintah Allah, orang menyimpang dari jalan yang benar, orang yang menyimpang dari ketaatan kepada-Nya.
Dengan kefasikannya itulah perjalanan hidupnya tidak melalui aturan, tidak terpimpin, tidak tentu arah, terus-menerus dihinggapi kegalauan dan kebingungan akibat dari ulahnya sendiri. Maka dari itu, solusinya tidak lain adalah kembali kepada syari’at Allah, kembali ke rel taqwallah, ingat hari akhirat, selalu berdzikir kepada-Nya.
Hingga hidupnya memang beda dari sebelumnya. Memang demikianlah, orang-orang mukmin itu beda dengan orang-orang kafir. Kebiasaan hamba-hamba yang sholih jelas bertolak belakang dengan orang-orang yang fasiq. Demikianlah memang sifat-sifat orang-orang penghuni syurga memang berbeda dengan para penghuni neraka.
لَا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ
“Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung”.
Semoga Allah senantiasa membimbing kita menjadi hamba-hamba yang cinta dengan amalan-amalan penduduk syurga. Amin.
* Redaktur Kantor Berita Islam “MINA” (Mi’raj News Agency), www.mirajnews.com
sumber : www.mirajnews.com
00.45
Share:
About

0 comments: